Single Blog Title

This is a single blog caption
6 Des 2018

Blog Dosen FTTM ITB : Gempa Situbondo dan Seismisitas di Wilayah Timur Jawa

//
Categories

Kejadian gempa pada 11 Oktober 2018 pukul 01:44 WIB memberikan dampak kerusakan yang signifikan di Situbondo dan sekitarnya. Data BNPB menyebutkan dampak dari gempa mengakibatkan korban meninggal 3 orang di Kecamatan Gayam, Sumenep.

 

Berdasarkan laporan USGS, gempa ini terjadi pada koordinat -7.456 dan 114.453 dengan magnitudo 6.0 dan kedalaman 9 km. Sedangkan sumber BMKG menyebutkan kekuatan gempa ini adalah magnitudo 6.4.

 

Beberapa sumber mempopulerkan gempa ini dinamakan dengan sebutan Gempa Situbondo, meskipun getarannya dirasakan di Surabaya dan Malang bahkan sampai ke Pulau Bali.

 

Secara mekanisme, Gempa Situbondo 11 Oktober 2018 terpicu akibat adanya aktivitas sesar naik di laut Madura. Parameter Nodal Plane (NP) yang menjadi parameter penentuan mekanisme fokus adalah NP1: Strike 290°, Dip 46° dan Rake 78°, sedangkan untuk NP2: Strike 127°, Dip 46° dan Rake 102°. Arah strike menunjukkan arah timur-barat dengan sedikit miring, dan untuk dip relatif dangkal. Posisi dan pola mekanisme fokus Gempa Situbondo dapat terlihat di Gambar 1.

Gambar 1. Posisi dan pola mekanisme fokus Gempa Situbondo 2018. Garis merah merupakan kelurusan sesar aktif berdasarkan hasil kajian Tim Peta Bahaya Gempa Indonesia 2017, sedangkan garis merah putus-putus adalah kelurusan sesar yang masih dipertanyakan.

 

Berdasarkan mekanisme fokus yang ada, Gempa Situbondo adalah thrusting (sesar naik). Fenomena ini memunculkan setidaknya ada dua pertanyaan, apakah Gempa Situbondo ini dipicu oleh Flores Back arc Thrust? atau Mungkinkah ada segmen lain yang belum terpetakan?

 

Jika mengacu pada pada Koulali dkk. (2016), maka ada sebuah interpretasi kelurusan sesar yang tegas memanjang dari utara Bali Sampai ke Jawa dan menerus ke Kendeng Thrust (Gambar 2).

Interpretasi yang dilakukan Koulali dkk. (2016) berdasarkan pola kecepatan titik-titik pengamatan GPS yang ada di Jawa dan Bali. Titik-titik pengamatan GPS tersebut merupakan jaringan Badan Informasi Geospasial (BIG) untuk memantau deformasi tektonik yang terjadi di Pulau Jawa.

 

Pola seismisitas yang ada di bagian timur Jawa memberikan gambaran tentang pola sumber gempabumi (Gambar 3). Beberapa kejadian gempabumi kemungkinan terpicu akibat adanya sesar aktif sebagaimana dijelaskan oleh Koulali dkk. (2016).

 

Akan tetapi ada beberapa cluster gempabumi yang belum terpetakan sumbernya dengan baik, salah satunya adalah cluster gempabumi yang berada di utara Gn. Raung. Gempa-gempa ini terjadi pada kedalaman yang relatif dangkal, yaitu kurang dari 30 km.

 

Gempa Situbondo magnitudo 6.0 yang terjadi pada 11 Okt 2018 seolah memberikan sinyal tentang bahaya kegempaan yang datang dari sisi utara ujung timur Pulau Jawa.

Gambar 3. Seismisitas di Jawa bagian timur, bulatan merah adalah epicenter gempa dan besaran bulatan merah mengidikasikan magnitudo gempabumi. Data kejadian gempabumi diperoleh dari katalog ISC tahun 1926 – 2018 dengan kedalaman kurang dari 50 km. Bintang kuning merupakan episenter kejadian gempa mag. 6.0 pada 11 Oktober 2018 pukul 01:44 WIB.

 

Referensi:
Koulali et al (2016), The kinematics of crustal deformation in Java from GPS observations: Implications for fault slip partitioning, Earth and Planetary Science Letters http://dx.doi.org/10.1016/j.epsl.2016.10.039

 

Sumber: http://www.seisnote.com/2018/11/gempa-situbondo-dan-seismisitas-di.html